Sunday, September 16, 2012

Sehari Aja...

Gara-gara dengerin lagunya mbak katy perry yang part of me. Ada satu baris liriknya yang berbunyi, 'i just wanna throw my phone away'. Untuk ukuran lirik lagu ngga bisa dibilang baru sih, tapi saya jadi kepikiran. Kalau saya nonaktifin hape seminggu aja, atau sehari aja, pengaruhnya apa ya?

Belum sempet dipraktekin, saya udah pesimis duluan. Kalo hape dimatiin pasti nanti bos saya marah-marah nyariin. Mungkin nanti klien ngamuk-ngamuk nanyain. Bisa jadi nanti mamah saya kesel karena ga ada yang bisa disuruh beliin lauk malem-malem pas saya pulang kerja. Itu baru dari orang-orang di sekitar saya. Untuk saya sendiri? Pasti nanti saya kebosenan sendiri karena ga bisa ngegames kalo lagi bengong. Mungkin sepanjang jalan pulang saya harus dengerin ocehan ibu-ibu di kereta karena ngga nyetel lagu dari hape. Bisa jadi nanti saya ngerasa ngga gaul karena ngga buka social media.

Ternyata saya udah ketergantungan berlebihan sama hape. Mungkin hal yang sama udah terjadi sama orang-orang yang jadi teman seperjalanan saya di kereta setiap hari. Yang walaupun kereta penuh sesak dengan manusia, tetap memilih untuk megangin hape sambil melototin layarnya daripada pegangan biar ngga jatuh. Mungkin hal yang sama udah terjadi sama orang-orang yang makan dengan hape di sebelah tangan sambil melototin layarnya daripada memperhatikan isi piringnya. Mungkin hal yang sama juga yang terjadi pada orang-orang yang tetap bertahan dengan hapenya daripada memperhatikan orang-orang di sekitarnya, bahkan yang ada di depan mata mereka. Ini saya baru menemukan istilahnya : NOMOPHOBIA. Ada artikelnya juga yang bisa dibaca disini.

Mungkin ada baiknya kalau ada satu hari, cukup satu hari dalam setahun, satu hari tanpa hape. Walaupun saya tahu kalau ada negara yang menerapkan hal ini pasti bakal dihina diprotes didemo habis-habisan sama rakyatnya.

Serius, saya cuma penasaran. Dulu, sampai sekitar awal tahun 2000an kita bisa hidup tanpa hape. Harusnya sekarang juga bisa kan? Toh di alam kubur nanti juga ga bakal ada hape.

Sunday, September 9, 2012

Return to Blog

Sama seperti temen2 blogger lainnya yang mulai posting blog lagi setelah vakum, hari ini saya mau kembali mengaktifkan diri menulis blog. Tapi tidak seperti mereka yang topiknya nikahan, saya mau berbagi pikiran random yang ringan2 aja deh, hehe.

Beberapa hari yang lalu saya baca timeline seorang motivator yang saya follow, temanya waktu itu adalah hidupkan blogmu. Haha, kesindir banget deh saya bacanya. Misalnya bagian "Buat apa punya blog kalo ngga dilihat dan diisi?". Terus ada juga temen kuliah saya yang sekarang lagi merantau di negeri jiran yang berhasil saya racunin buat bikin blog. Nah masa saya ngajarin buat blog tapi blog saya sendiri terbengkalai? Jadi sekarang saya ingin memantapkan hati lagi untuk rutin posting. Tapi untuk bisa memenuhi target itu, saya harus menanyakan kembali sama diri saya sendiri. Buat apa sih ngeblog?

Dulu saya mulai bikin akun blogspot yang pertama dengan alasan yang teramat mulia : latihan nulis yang baik dan benar buat skripsi, haha. Tapi setelah akun blog yang pertama itu hangus entah kenapa, lalu saya buat akun kedua (yang ini) dengan alasan berbeda : buat numpahin uneg-uneg dan keluhan. Well, bukan alasan yang bagus emang. Tapi jujur aja saya kesal tiap buka home facebook atau timeline twitter yang isinya ngga variatif (kalo bukan ngeluh, pamer, jualan, pacaran, berantem) dan saya bertekad ngga mau menambah penderitaan teman-teman maupun follower saya dengan melakukan hal yang sama. Jadi solusinya adalah bikin blog, dimana saya bisa share apapun, sepanjang apapun, senarsis apapun, sesuai keinginan saya. Terserah orang mau baca atau nggak, toh ini blog saya. Dunia saya. Hasil kerja otak saya, sesampah apapun itu. Tapi setelah saya pikir-pikir panjang kali lebar kali tinggi, alangkah baiknya kalo blog saya ini diisi dengan hal-hal bermanfaat juga.

So, this is it! Perwujudan tekad baru, saya akan posting blog minimal dua minggu sekali! Yeah!
*dua  bulan kemudian. blog kembali berdebu
**haha, semoga kali ini nggak ;p

Cheers! Thanks for reading. Buat dirimu bermanfaat untukmu sendiri dan orang-orang di sekitarmu :D

Thursday, May 17, 2012

Out of the Box

Sesuai judul, topik postingan kali ini melampaui kewajaran saya, hehe. Jadi ceritanya saya ingin membagi pengetahuan yang saya dapat secara ngga sengaja *kasarnya, nyaris nguping*. Tapi darimana pun asalnya, saya mem-publish tulisan ini dengan harapan bisa bermanfaat buat pembaca sekalian

Di kantor saya, ada semacam pengajian rutin setiap hari Jumat, dua minggu sekali, setelah ashar, diasuh oleh seorang ustadz yang sudah lumayan akrab dengan orang-orang kantor. Hari Jumat sekitar tiga minggu yang lalu, sang ustadz datang lebih awal dan sempat mengobrol dengan mbak di kantor saya, yang saat itu baru akan melangsungkan pernikahan (saat tulisan ini dibuat, mbaknya udah nikah). Sebenarnya saya ngga berniat nguping, tapi karena mejanya si mbak tepat di samping meja saya dan topiknya lumayan menarik, saya jadi ikutan nyimak deh.  Topiknya, tentu saja, tentang cinta. Hehe.

Menurut sang ustadz, cinta itu bisa dibagi menjadi tiga tipe menurut asalnya. Dan asal cinta ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan pernikahan itu nanti. Ini saya ikutin istilahnya ustadz aja ya.

Tipe yang pertama adalah tipe Eros. Eros adalah dewa cinta dari mitologi yunani yang terkenal karena memiliki penampilan fisik yang oke banget *katanya. Di mitologi romawi, ia digambarkan sebagai anak laki-laki gendut bersayap yang kemana-mana membawa panah cinta. Yak bener, Cupid. Tipe cinta yang ini mudah ditebak, yaitu cinta karena keindahan fisik si lawan jenis.

Tipe yang kedua yaitu tipe Philip. Saya gagal paham, Philip yang dimaksud ini yang mana (maklum yang namanya Philip dalam sejarah banyak banget). Tipe cinta yang ini, berlawanan dengan tipe yang pertama. Misalnya cinta karena sifatnya yang baik, perhatian, kata-kata yang manis, intinya yang lebih ke "inner" dari si lawan jenis.

Dari kedua tipe yang sudah disebutkan, bisa disimpulkan bahwa yang paling rentan adalah tipe Eros. Karena kalau keelokan paras si kekasih hati mulai memudar, misalnya karena usia, cinta pun ikut menghilang. Sementara sekilas, tipe Philip terlihat seperti cinta sejati. Tapi saat kata-kata manis berkurang, perhatian terhenti, sifat yang baik mulai berubah, apa cinta masih tetap sama? Nah jadi solusinya, cinta yang bener itu adalah cinta yang didasari oleh keyakinan. Keyakinan bahwa orang itu adalah orang yang dipilihkan Allah, ditakdirkan sebagai pendamping hidup kita. Inilah yang disebut tipe ketiga, yaitu Sejati (iya emang istilahnya ga matching sama kedua istilah sebelumnya, tapi saya mah ngikutin istilah ustadz aja *pembelaan*). Jadi yang saya tangkap, tipe ini lebih didasari oleh keikhlasan untuk menerima siapa pun pendamping hidup kita, dengan keyakinan bahwa Allah telah memilihkan orang yang paling tepat. Mungkin tipe inilah yang dianut ayah dan ibu kita, kakek dan nenek kita, dan pasangan-pasangan lain yang langgeng sampai akhir hayat.

Untuk kita-kita yang pemikiran dan perasaannya masih 'dangkal', tipe cinta ini masih bisa diubah kok. Jadi untuk teman-teman yang sudah menemukan calon pendamping hidup, coba deh alasan cintanya diubah, biar makin awet. Dan untuk yang masih single fighter, jangan panik. Allah paling tahu yang terbaik untuk kita :D

old couples make me realize that true loves do exist

Cheers! Thanks for reading. Maap kalo bahasannya kesana kemari :p

Saturday, March 24, 2012

Working Time

Yes I'm in the mood of blogging :D

Working as Bogor-Jakarta commuter is a new thing to me. How we struggle to get seat on the train, how to survive in the middle of passengers (baca : desek-desekan), and how to be patient hearing someone talking all the time just beside our ears. Despite of all troubles, I still always try to consider positive things from everything I get, and learn from experiences.

Now I'm working in an outsourcing company, focusing in landscape maintenance. All the projects are in landscape industries, that's mean I have to go from one factory to the others to control the landscape condition. Sometimes I have to redesign some areas and make maintenance plan for the projects. But most of all I prefer to enjoy the existing landscapes, hehee.

Some existing gardens in the projects.

PT Essence Jakarta

view from the other corner


the nursery that I have to re-arrange





PT ICI (Dulux Paint)
Because I'm still new and unexperienced in this thing, I usually get confused with what should I do. Haha. Hope I'll get better as time goes by :p

Cheers! Thanks for reading :D

Friday, March 23, 2012

My First "Pulang Kampung"

Tuban, finally :D

I have been expecting this for 23 years of my life, and alhamdulillah i got the chance to visit my father's hometown, Tuban, early January this year. Tuban is a sea-side city at the edge of East Java. A small yet peaceful place and surprisingly, very homy for me. Stayed at my aunt's house (and it was also the house where my father lived for years) and served with delicious ikan garang asem (the yummiest seafood I've tasted!) made me really want to get back there as soon as i left this city.

Tuban is also well known as "The Thousand Caves City" and "Kota Wali". There are many interesting and unique tourism objects there such as Kwan Sing Bio temple, Nglirip waterfall, hot spring, beaches, some caves like Ngerong and Akbar cave, Sunan Bonang's grave, and underground pesantren. The local government is in process of developing those objects, also the others, to support Tuban towards tourism-based city.

Here are some places that we visited there.

Kwan Sing Bio Temple

inside the temple

maquette plan of Kwan Sing Bio

Kwan Sing Bio is one of the most popular temple (and most visited) in Indonesia. It is located right across a beach, facing to the north, to the Java Ocean. People said that this position made the temple the best place to pray and make wishes. Kwan Sing Bio is also known as the only temple which uses crab symbol at the gate, while the other temples use dragons. The beach across the temple is also a tourism object, but it was just a small beach which sinks when the sea level rises. This beach is full of fishermen's boats at daytime, waiting the sunset for sailing.

can you see the beach?





This is Pantai Kelapa, another beach at Tuban. Also full of boats.



Beside the beaches, we also visit Sunan Bonang's grave and Masjid Agung, and the unique underground pesantren. Unfortunately we weren't allowed to take pictures inside the pesantren. You can get more info here and take a look at the video here.

Well, in just two days there aren't much time to visit all objects there. But I hope there will be next time to enjoy this beautiful city. Somehow I feel connected to this place, and I know I can always call Tuban as my second home. By the way, don't forget to buy some shrimp or fish crackers and shrimp paste (kerupuk ikan/udang dan terasi!) if you visit Tuban. I found them as some of the best, beside the ones from Cirebon and Palembang.

Thanks for reading. Cheers :D

p.s. Forgive my poor grammar and vocabulary. Just trying to practice my English again :p